Tanjung Pinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata akan menggelar Penyengat Heritage Fest 2025 pada 12–14 September 2025 di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang. Festival ini mengangkat tema “Pariwisata Regeneratif”, sebuah konsep pembangunan pariwisata yang menjaga keberlanjutan lingkungan, budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Berbeda dengan konsep pariwisata massal yang cenderung eksploitatif, pariwisata regeneratif berfokus pada upaya mengembalikan bahkan memperbaiki kondisi alam, budaya, dan sosial yang disentuh oleh aktivitas wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati, tetapi juga untuk berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan nilai budaya setempat.
Pulau Penyengat menjadi contoh nyata penerapan pariwisata regeneratif. Dengan jejak sejarahnya sebagai pusat Kesultanan Riau-Lingga, pulau ini menyimpan warisan peradaban, sastra, dan nilai luhur Melayu yang tak ternilai. Festival ini dirancang untuk memastikan bahwa warisan tersebut tidak hanya dipelihara, tetapi juga diwariskan dengan cara yang lebih bermakna kepada generasi mendatang.
Tiga kompetisi menjadi magnet utama: Lomba Gasing, Lomba Nyuluh, dan Penyengat Night Run 3,5 Km. Setiap lomba tidak hanya dikemas sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk regenerasi budaya, kebersamaan, dan gaya hidup sehat bagi masyarakat maupun wisatawan.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut optimis penyelenggaraan festival ini. “Pulau Penyengat adalah simbol kejayaan Melayu yang telah diakui dunia. Melalui Penyengat Heritage Fest 2025, kita ingin menghidupkan kembali kebanggaan itu sekaligus meneguhkan komitmen Kepri dalam membangun pariwisata regeneratif yang bermanfaat tidak hanya hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” ungkapnya.
Lomba Gasing: Putaran Tradisi yang Tak Pernah Padam
Pulau Penyengat kembali menghidupkan permainan tradisional yang sarat makna: Gasing Melayu. Dengan dentuman kayu yang beradu dan putaran yang memikat, Lomba Gasing di festival ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Melayu serta upaya regenerasi budaya yang hampir pudar.
Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, menegaskan bahwa permainan gasing bukan sekadar permainan rakyat, melainkan bagian dari identitas Melayu.
“Dengan lomba gasing, kita ingin anak-anak muda kembali mengenal permainan leluhur. Tradisi ini adalah warisan yang harus tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi,” ungkapnya.
Lomba Nyuluh: Cahaya di Malam Penyengat
Malam hari di Pulau Penyengat akan semakin meriah dengan Lomba Nyuluh, tradisi menangkap ikan dengan lampu senter yang diwariskan turun-temurun. Lomba ini tidak hanya menguji keterampilan, tetapi juga mengajarkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
Prinsip pariwisata regeneratif tampak jelas dalam kegiatan ini, yakni bagaimana tradisi sederhana bisa dirawat tanpa merusak lingkungan, sekaligus menghadirkan pengalaman unik bagi wisatawan.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyampaikan: “Lomba Nyuluh mengajarkan kita tentang harmoni dengan alam. Melalui festival ini, tradisi ini kembali bersinar dan memberi pesan bahwa pariwisata harus menjaga keseimbangan ekosistem.”
Penyengat Night Run 3,5 Km: Energi Baru di Tanah Sejarah
Sebagai pelengkap semangat regenerasi, festival juga menghadirkan Penyengat Night Run 3,5 Km. Berbeda dari lomba lari biasa, ajang ini digelar pada malam hari, membawa peserta menyusuri jalan-jalan bersejarah Pulau Penyengat di bawah cahaya lampu dan bulan.
Event ini menjadi simbol gaya hidup sehat, kolaborasi masyarakat, dan semangat kebersamaan. Wisatawan maupun warga lokal diajak untuk merasakan energi baru di tengah suasana pulau yang penuh sejarah.
“Night Run ini bukan sekadar olahraga, tapi cara kita menghubungkan masa lalu dan masa kini. Pulau Penyengat akan menjadi saksi bagaimana sejarah dan generasi muda berlari bersama menuju masa depan,” ujar Hasan.
Hasan menambahkan, Penyengat Heritage Fest 2025 bukan sekadar festival. Ini adalah ruang regenerasi budaya, olahraga, dan kebersamaan. Hasan ingin wisatawan datang, belajar, dan merasakan langsung kekayaan budaya serta keramahan masyarakat Pulau Penyengat.
Dengan menghadirkan konsep humanis, inklusif, dan penuh kearifan lokal, penyelenggara optimis bahwa Penyengat Heritage Fest 2025 akan menjadi kalender wisata unggulan yang mengangkat nama Kepulauan Riau di pentas nasional bahkan internasional. (BP)
