Magnet Kekuatan Ekonomi Daerah melalui Warisan Sejarah dan Budaya dari Kejayaann Peradaban Melayu-Islam
Ditulis oleh : Hasan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri
Di tengah arus besar pembangunan pariwisata nasional yang kini bergeser dari sekadar kuantitas menuju kualitas dan keberlanjutan, ada satu titik kecil di peta Indonesia yang sesungguhnya menyimpan daya ledak peradaban yang luar biasa: Pulau Penyengat. Pulau ini bukan sekadar destinasi, melainkan teks hidup dari sejarah, budaya, dan spiritualitas Melayu-Islam yang pernah menjadi poros intelektual kawasan.
Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah kita benar-benar memahami nilai strategis Pulau Penyengat, atau kita sekadar merayakannya sebagai objek wisata musiman?
Bahasa sebagai Fondasi Peradaban, Bukan Sekadar Simbol
Tak berlebihan jika Pulau Penyengat disebut sebagai salah satu episentrum lahirnya tata bahasa Melayu modern. Dari pulau inilah Raja Ali Haji menulis Tuhfat al-Nafis dan Kitab Pengetahuan Bahasa, karya monumental yang menjadi fondasi bagi perkembangan Bahasa Indonesia hari ini.
Dalam konteks ini, pembangunan Monumen Bahasa Pulau Penyengat bukanlah proyek estetika, melainkan proyek peradaban. Monumen Bahasa seharusnya diposisikan sebagai:
Negara-negara maju memahami betul kekuatan simbol semacam ini. Perancis memiliki Académie Française, Inggris menjaga Shakespeare sebagai warisan global, dan Jepang menginstitusikan bahasa dalam kebudayaan modernnya. Indonesia, ironisnya, seringkali belum maksimal memuliakan akar bahasanya sendiri.
Momentum RPJMN dan Pariwisata Regeneratif
Melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025, pemerintah telah menegaskan arah baru: pariwisata harus berkualitas dan berkelanjutan. Bahkan, konsep pariwisata regeneratif kini menjadi arus utama, bukan hanya menjaga, tetapi memperbaiki dan memperkaya lingkungan, budaya, dan ekonomi lokal.
Pulau Penyengat memenuhi seluruh prasyarat itu:
Namun, semua itu membutuhkan narasi pengikat. Di sinilah Monumen Bahasa memainkan peran krusial sebagai “anchor” atau jangkar utama storytelling destinasi. Tanpa narasi yang kuat, destinasi hanya menjadi latar foto. Dengan narasi, ia menjadi pengalaman.
Dari Revitalisasi Infrastruktur ke Revitalisasi Makna
Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan Ansar Ahmad patut diapresiasi. Penataan jalan, drainase, penerangan, fasilitas umum, hingga pengelolaan sampah menunjukkan keseriusan dalam membangun fondasi fisik destinasi. Namun, pembangunan fisik tanpa penguatan makna akan cepat kehilangan daya tariknya.
Monumen Bahasa harus menjadi:
Jika dikelola dengan visi besar, Monumen Bahasa tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga:
Dan di situlah nilai ekonominya berlipat ganda.
Ekonomi Berbasis Identitas: Jalan Baru Daerah
Data kunjungan periode Januari-Maret 2026 sekitar 6.200 wisatawan asal Malaysia, Singapura, Eropa mengunjungi Pulau Mas Kawin tersebut, tetapi angka itu sejatinya baru permukaan. Potensi sesungguhnya terletak pada ekonomi berbasis identitas (identity-based economy).
Monumen Bahasa dapat menjadi pengungkit bagi:
Di sinilah Pulau Penyengat bertransformasi dari destinasi lokal menjadi hub budaya Melayu dunia.
Tantangan Terbesar: Kesadaran Kolektif
Namun, pembangunan sehebat apa pun akan runtuh jika tidak ditopang oleh kesadaran masyarakat. Program seperti Gerakan Indonesia ASRI yang diinisiasi oleh Prabowo Subianto bukan sekadar slogan, melainkan prasyarat dasar: kebersihan, kenyamanan, dan keramahan adalah wajah pertama sebuah destinasi. Wisatawan datang karena penasaran, tetapi mereka kembali karena terkesan.
Dan kesan itu lahir dari hal-hal sederhana:
Pada akhirnya, Pulau Penyengat bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah jembatan lintas generasi—menghubungkan kejayaan peradaban Melayu-Islam dengan masa depan ekonomi kreatif Indonesia.
Monumen Bahasa adalah titik simpul dari jembatan itu. Jika dibangun dengan visi besar, dikelola dengan profesional, dan dijaga dengan kesadaran kolektif, maka Pulau Penyengat tidak hanya akan dikenal sebagai situs sejarah, tetapi sebagai pusat peradaban bahasa yang hidup, relevan, dan menggerakkan ekonomi.
Dan di tengah dunia yang semakin kehilangan akar, barangkali justru dari pulau kecil inilah Indonesia bisa kembali menemukan jati dirinya.