TANJUNGPINANG – Gemuruh semangat budaya Melayu mengakhiri rangkaian Penyengat Heritage 2026 yang berlangsung meriah di Balai Adat Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Sabtu (20/6/2026). Festival yang mengusung konsep Regenerative Lifestyle Tourism ini menjadi sebuah gerakan bersama untuk menikmati, menjaga, dan mewariskan kekayaan sejarah serta budaya Melayu Pulau Penyengat kepada generasi mendatang.
Kegiatan penutupan dihadiri oleh Gubernur Kepri, Wakil Gubernur Kepri, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, serta Wakil Wali Kota Tanjungpinang, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian warisan budaya yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Melayu.
Selama pelaksanaannya, Penyengat Heritage 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat pesisir Melayu. Sebanyak 200 peserta turut memeriahkan lomba Jong, permainan tradisional yang merepresentasikan kedekatan masyarakat Melayu dengan laut. Selain itu, kompetisi gasing yang diikuti 40 peserta turut menghidupkan kembali permainan warisan leluhur yang sarat nilai sejarah dan kebersamaan.

Keindahan budaya Melayu juga ditampilkan melalui pertunjukan Tari Kreasi Melayu serta seni pertunjukan Mak Yong dari Mantang Lama yang menghadirkan pesona seni tradisi yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun.
Tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, Penyengat Heritage 2026 juga mengangkat kepedulian terhadap lingkungan melalui penerapan konsep regenerative tourism. Salah satu aksi nyata yang dilakukan adalah penanaman 1.000 batang mangrove di kawasan pesisir Pulau Penyengat sebagai upaya menjaga ekosistem pantai sekaligus memastikan destinasi wisata tetap lestari untuk masa depan.

Kemeriahan festival semakin terasa dengan hadirnya berbagai hiburan masyarakat, termasuk kegiatan nonton bareng Piala Dunia bersama TVRI Kepri yang mempererat kebersamaan antara masyarakat lokal dan para pengunjung.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menyampaikan bahwa Penyengat Heritage 2026 bukan hanya sebuah festival budaya, tetapi menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga warisan sejarah, budaya, dan lingkungan Pulau Penyengat melalui pendekatan pariwisata berkelanjutan.

“Penyengat Heritage 2026 menjadi ruang bagi kita semua untuk mengenal kembali jati diri bangsa melalui warisan budaya Melayu yang ada di Pulau Penyengat. Melalui konsep Regenerative Lifestyle Tourism, kami ingin menghadirkan pariwisata yang tidak hanya memberikan pengalaman kepada wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, budaya, dan alam,” ujar Hasan.
Menurutnya, semangat pelestarian yang dibangun melalui festival ini juga menjadi langkah awal menuju pembangunan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat sebagai simbol penghormatan atas peran besar pulau bersejarah tersebut dalam perjalanan dan perkembangan Bahasa Indonesia.

Pembangunan Tugu Bahasa direncanakan berlangsung dalam kurun waktu dua tahun dan ditargetkan dapat diresmikan bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda. Kehadiran tugu tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi generasi masa depan bahwa Pulau Penyengat memiliki kontribusi besar dalam melahirkan fondasi Bahasa Indonesia melalui karya-karya tokoh Melayu terdahulu.
Dengan berakhirnya Penyengat Heritage 2026, semangat menjaga warisan leluhur tidak ikut berakhir. Festival ini menjadi awal dari perjalanan panjang menjadikan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang hidup, lestari, serta memberikan manfaat bagi masyarakat melalui konsep pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (BPras)
Kontributor Berita : Dina
Kontributor Foto : Veve