TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat terus berbenah. Pulau bersejarah di Kota Tanjungpinang yang menjadi salah satu pusat penting peradaban Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia itu kini memasuki babak lanjutan penataan melalui program “Penyengat Bedelau”, gagasan Gubernur Kepri Ansar Ahmad yang telah dijalankan sejak periode pertama kepemimpinannya.
Memasuki Agustus 2026, penataan tidak lagi hanya menyentuh jalan, drainase, lingkungan, dan situs bersejarah. Pemerintah Provinsi Kepri juga mempersiapkan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional yang dirancang menjadi bagian dari konsep museum terbuka atau open museum dengan cakupan kawasan cagar budaya Pulau Penyengat.
Bedelau dalam khazanah Melayu menggambarkan sesuatu yang gemilang dan indah. Semangat itulah yang menjadi arah penataan Pulau Penyengat: memperbaiki wajah kawasan tanpa melepaskannya dari sejarah, budaya, kehidupan masyarakat, dan karakter Melayu yang telah tumbuh selama berabad-abad.
Program Penyengat Bedelau dijalankan melalui sejumlah pendekatan, mulai dari revitalisasi infrastruktur, penataan kawasan cagar budaya, perbaikan lingkungan, penerangan kawasan, hingga pengembangan fasilitas dan ikon kebudayaan.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan, penataan tersebut tidak semata diarahkan untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan sejarah Melayu dan meningkatkan kenyamanan masyarakat yang tinggal di Pulau Penyengat.
“Pulau Penyengat ini adalah aset berharga yang harus kita rawat dengan baik. Setiap perbaikan dan revitalisasi yang kita lakukan bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, sekaligus menjaga keaslian dan nilai historis dari setiap bangunan yang ada,” ujar Ansar.
Infrastruktur Jalan dan Drainase Rampung
Salah satu perubahan yang paling terasa berada pada infrastruktur dasar. Hingga Agustus 2026, jaringan jalan internal yang menghubungkan dermaga, situs bersejarah, fasilitas publik, dan kawasan permukiman warga telah selesai ditata menggunakan cor beton bermotif (pattern concrete).
Penataan tersebut turut dilengkapi perbaikan sistem drainase di sepanjang ruas jalan untuk mengurangi potensi genangan.
Pemerintah daerah selanjutnya merencanakan kelanjutan pembangunan jalan lingkar yang akan menghubungkan sisi luar pulau melalui jalur di kawasan pesisir.
Penataan jalan Pulau Penyengat telah menjadi salah satu perhatian Pemprov Kepri dalam beberapa tahun terakhir. Pada 26 Maret 2025, Ansar menemui Wakil Menteri Pekerjaan Umum RI Diana Kusumastuti di Jakarta untuk mengusulkan dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan Pulau Penyengat, termasuk penataan jalan sepanjang 1,82 kilometer.
“Saya berharap agar penataan jalan sepanjang 1,82 km di Pulau Penyengat dapat segera direalisasikan guna meningkatkan daya tarik wisata dan melestarikan nilai historis Pulau Penyengat,” kata Ansar saat itu.
Selain jalan, penataan infrastruktur Pulau Penyengat juga mencakup fasilitas dermaga dan ponton HDPE serta lingkungan di sekitar situs-situs bersejarah.
Dari Masjid Sultan Riau hingga Balai Adat
Revitalisasi juga diarahkan pada detail fasilitas di sejumlah titik yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pulau Penyengat.
Saat meninjau Pulau Penyengat pada Jumat terakhir Ramadan 1446 Hijriah, 28 Maret 2025, Ansar mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau, makam Engku Putri Hamidah, makam Raja Haji Fisabilillah, dan Balai Adat Melayu Penyengat.
Di Masjid Raya Sultan Riau, sejumlah fasilitas menjadi perhatian, antara lain perbaikan kotak Al-Qur'an, penambahan kipas angin untuk kenyamanan jemaah, serta perbaikan bagian kawasan masjid yang mengalami kebocoran.
Di kompleks makam Engku Putri Hamidah dan Raja Haji Fisabilillah, Ansar meminta pembaruan tulisan Gurindam Dua Belas, pembangunan tempat wudu bagi pengunjung, serta penyediaan lemari penyimpanan buku Yasin untuk kegiatan doa dan tahlil.
Sementara itu, di Balai Adat Melayu Penyengat, perhatian diarahkan pada perbaikan sumur tua yang berada di bawah balai adat. Penataan halaman juga direncanakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan di sekitar bangunan yang menjadi salah satu ruang pelestarian tradisi Melayu tersebut.
“Pulau Penyengat bukan hanya destinasi wisata religi dan sejarah, tetapi juga simbol kejayaan Kesultanan Riau-Lingga yang harus terus dilestarikan,” ujar Ansar.
Malam di Penyengat Mulai Berubah
Penataan Pulau Penyengat juga menyentuh suasana kawasan pada malam hari.
Jaringan penerangan jalan telah ditambah di jalur utama, termasuk kawasan dari Masjid Raya Sultan Riau hingga Balai Adat Melayu Penyengat. Penataan lanskap, lampu hias, serta pengembangan ruang cerita atau storytelling dan artwork turut dipersiapkan bersama Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperkuat karakter kawasan.
Pada Rabu, 29 Juli 2026, Ansar mengungkapkan bahwa sebagian lampu hias yang dipasang di ruas-ruas jalan Pulau Penyengat menggunakan dana pribadinya dan bukan bersumber dari APBD Kepri.
“Kalau lampu-lampu itu dana pribadi, dari rezeki, kita bagi-bagi untuk rakyat bukan dalam bentuk uang,” ujarnya.
Penerangan tersebut dipasang secara bertahap di sejumlah ruas jalan di kawasan permukiman. Selain mendukung aktivitas warga, keberadaan penerangan diharapkan memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang berada atau menginap di Pulau Penyengat pada malam hari.
“Saya kira Penyengat sudah semakin menarik. Semakin banyak pengunjung, maka kita akan poles terus,” kata Ansar.
Ia mengatakan pemasangan lampu akan dilanjutkan secara bertahap.
“Sekarang saya sudah memasang sebagian lampu-lampu di semua jalan. Mudah-mudahan bisa kita terangin lagi,” ujarnya.
Penataan Rumah Warga
Sementara pemasangan sebagian lampu hias menggunakan dana pribadi gubernur, APBD Perubahan 2026 diarahkan antara lain untuk penataan permukiman masyarakat.
Pemprov Kepri mengalokasikan sekitar Rp2 miliar bagi program pemugaran, renovasi, dan pengecatan rumah-rumah warga di Pulau Penyengat.
Penataan diarahkan agar hunian di sekitar kawasan cagar budaya memiliki keselarasan visual dengan karakter arsitektur Melayu, tanpa menghilangkan fungsi utama rumah sebagai tempat tinggal masyarakat.
“Kalau APBDP itu untuk pengecatan dan renovasi rumah-rumah warga,” kata Ansar.
Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan penataan kawasan yang tidak hanya berfokus pada objek wisata dan situs sejarah, tetapi juga lingkungan permukiman yang menjadi bagian dari lanskap Pulau Penyengat.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian dari Penyengat Bedelau. Kegiatan gotong royong dan pembersihan lingkungan dilakukan secara rutin bersama warga untuk menjaga kebersihan kawasan wisata dan permukiman.
Museum dan Monumen Bahasa Nasional
Babak berikutnya dari penataan Pulau Penyengat diarahkan pada pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional.
Proyek tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari upaya menempatkan Pulau Penyengat dalam narasi sejarah perkembangan bahasa Indonesia sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya Melayu.
Pembangunannya dirancang menggunakan skema tahun jamak atau multiyears selama dua tahun dan ditargetkan selesai pada akhir 2027. Monumen tersebut selanjutnya diproyeksikan untuk diresmikan pada 2028, bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda.
Proses groundbreaking sebelumnya direncanakan pada akhir Juli 2026 dan dalam perkembangan berikutnya ditargetkan berlangsung pada minggu pertama Agustus 2026 setelah tinjauan awal Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selesai.
Yang membedakan pengembangan tersebut adalah konsep kawasannya. Museum dirancang dengan pendekatan open museum atau museum terbuka yang mencakup keseluruhan kawasan cagar budaya Pulau Penyengat dan direncanakan menjadi yang pertama di Indonesia.
Dengan konsep tersebut, sejarah tidak hanya disajikan di dalam sebuah gedung. Situs, makam, masjid, bangunan tradisional, jalan, ruang publik, hingga kehidupan masyarakat Pulau Penyengat menjadi bagian dari pengalaman memahami perjalanan sejarah kawasan.
“Pemprov Kepri merencanakan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan penguatan identitas budaya Melayu,” kata Ansar.
Dibawa ke Tiga Kementerian
Untuk mempercepat penataan kawasan, Pemprov Kepri juga membawa rencana pengembangan Pulau Penyengat ke tingkat pemerintah pusat.
Dalam rangkaian kerja di Jakarta pada 10–11 Juni 2026, Ansar melakukan audiensi dengan tiga kementerian untuk memaparkan rencana sekaligus progres penataan infrastruktur Pulau Penyengat.
Setelah menyampaikan rencana penataan Pulau Penyengat serta pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional kepada Kementerian Kebudayaan, Ansar melanjutkan pembahasan dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas pada 10 Juni 2026 dan Kementerian Pekerjaan Umum pada 11 Juni 2026.
Di Bappenas, pembahasan dilakukan bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Sementara di Kementerian PU, Ansar membahas pengembangan kawasan bersama Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti.
Salah satu dukungan yang diharapkan Pemprov Kepri adalah rehabilitasi objek-objek cagar budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian Pulau Penyengat yang telah berstatus kawasan cagar budaya nasional.
Pengembangan Museum dan Monumen Bahasa Nasional juga direncanakan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.
Dalam rangkaian pembahasan tersebut, Ansar didampingi Kepala Dinas PUPP Kepri Rodi Yantari, Kepala Dinas Kebudayaan Herry Andrianto, Kepala Bappeda Aries Fhariandi, Kepala Dinas Perkim Said Nur Syahdu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kepri Jumhari, serta Kepala Biro Adpim Dodi Sepka Novyandi.
Menjaga Pulau yang Menyimpan Sejarah Bahasa
Posisi Pulau Penyengat dalam sejarah Nusantara tidak dapat dilepaskan dari Kesultanan Riau-Lingga dan perjalanan intelektual Melayu. Pulau ini juga memiliki hubungan penting dengan perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu fondasi bahasa Indonesia.
Warisan tersebut tersebar pada sejumlah situs, mulai dari Masjid Raya Sultan Riau, kompleks makam tokoh-tokoh Kesultanan Riau-Lingga, Balai Adat Melayu, hingga jejak intelektual yang berkaitan dengan karya-karya bahasa dan sastra Melayu.
Karena itu, konsep Penyengat Bedelau diarahkan tidak hanya pada pembenahan fisik, tetapi juga pada upaya menjaga hubungan antara kawasan cagar budaya, sejarah, masyarakat, dan aktivitas pariwisata.
Rangkaian penataan tersebut turut mendapat pengakuan melalui Apresiasi Cita Loka Fest 2026 atas komitmen Pemprov Kepri dalam menjaga warisan budaya.
Bagi Pemprov Kepri, pekerjaan di Pulau Penyengat belum berhenti. Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional, kelanjutan infrastruktur, penataan permukiman, penerangan, lanskap, serta rehabilitasi situs cagar budaya masih menjadi agenda yang berjalan menuju 2027 dan 2028.
Ansar mengatakan keberlanjutan penataan membutuhkan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.
“Saya berharap dengan adanya revitalisasi ini, Pulau Penyengat semakin menarik bagi wisatawan dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Mari kita bersama-sama menjaga warisan budaya ini agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Di tengah perubahan fisik yang berlangsung, arah Penyengat Bedelau pada akhirnya bertumpu pada satu prinsip: membuat Pulau Penyengat lebih tertata dan nyaman, tanpa melepaskan identitas sejarah yang menjadikannya salah satu ruang penting dalam perjalanan kebudayaan Melayu dan bahasa Indonesia. (BPras).