Hadapi Tekanan Global, Dispar Kepri Perkuat Sinergi Lintas Sektor Melalui Rakor

22 April 2026, 00:34 WIB 6 kali dibaca
Kategori : Berita

BATAM - Di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks dan berdampak langsung pada mobilitas internasional, Provinsi Kepulauan Riau tidak memilih untuk menunggu. Sebaliknya, daerah perbatasan strategis ini justru bergerak cepat, menyatukan kekuatan lintas sektor dalam sebuah langkah terukur dan penuh kesadaran kolektif.

 

Bertempat di Gedung Graha Kepri, Batam (21/4), Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata menyelenggarakan Rapat Koordinasi Lintas Sektoral bertema “Menjaga Stabilitas dan Kondusivitas Pariwisata di Tengah Konflik Global”. Forum ini menjadi titik temu antara pemerintah, pelaku industri, hingga instansi vertikal dalam merumuskan respons adaptif terhadap tekanan global yang terus berkembang.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan momentum strategis untuk memastikan sektor pariwisata tetap menjadi penopang utama ekonomi daerah di tengah ketidakpastian dunia.

 

Dalam arahannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa kondisi global saat ini menuntut kecepatan dan ketepatan langkah. Ia menekankan bahwa intervensi tidak harus selalu besar, tetapi harus cerdas, terukur, dan berdampak langsung.

 

“Yang kita butuhkan hari ini adalah langkah cepat, kolaboratif, dan fokus pada solusi jangka pendek yang konkret. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa menjaga citra Kepulauan Riau sebagai destinasi yang aman, ramah, dan nyaman adalah prioritas utama. Dalam situasi global yang tidak menentu, kepercayaan wisatawan menjadi aset yang harus dijaga bersama.

 

Di tengah tantangan tersebut, optimisme tetap tumbuh kuat. Data menunjukkan bahwa sektor pariwisata Kepulauan Riau memiliki fondasi yang solid. Sepanjang tahun 2025, Kepri mencatat lebih dari 2 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 4,3 juta wisatawan nusantara, dengan kontribusi ekonomi mencapai Rp22,6 triliun.

 

Memasuki awal 2026, tren positif masih berlanjut. Dalam periode Januari hingga Februari saja, tercatat 327.489 kunjungan wisatawan mancanegara, dengan dominasi pintu masuk melalui Batam yang mencapai hampir 79 persen.

Namun di balik capaian tersebut, berbagai tantangan mulai terasa. Dari sisi eksternal, kenaikan biaya transportasi akibat fluktuasi global, pembatasan akses dari beberapa negara, hingga meningkatnya persaingan destinasi regional menjadi tekanan nyata. Sementara secara internal, isu pelayanan di pintu masuk, keterbatasan konektivitas, hingga rendahnya lama tinggal wisatawan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, dalam paparannya menegaskan bahwa situasi ini harus dijawab dengan strategi yang adaptif dan kolaboratif.

 

“Rakor ini adalah ruang menyatukan perspektif. Kita tidak hanya membahas masalah, tetapi memastikan setiap tantangan direspons dengan langkah nyata dan terukur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa fokus utama ke depan adalah memperkuat citra destinasi, meningkatkan kualitas pelayanan di pintu masuk (CIQ), serta memperluas pasar wisata melalui strategi diversifikasi yang lebih agresif.

 

Salah satu poin penting yang mengemuka dalam rapat adalah tingginya ketergantungan pasar wisata Kepulauan Riau terhadap negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia, yang menyumbang lebih dari 75 persen kunjungan wisatawan.

 

Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kedekatan geografis menjadi keunggulan. Namun di sisi lain, setiap perubahan kebijakan atau kenaikan biaya transportasi dari negara tersebut akan berdampak langsung terhadap angka kunjungan wisata.

Karena itu, forum ini juga menegaskan pentingnya membuka pasar baru seperti India, Tiongkok, dan Timur Tengah, sekaligus memperkuat daya tarik produk wisata berbasis budaya Melayu, wisata bahari, hingga wellness tourism.

 

Meski Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, tidak dapat hadir secara langsung karena agenda pemerintahan lainnya, pesan kuat tetap disampaikan sebagai landasan arah kebijakan.

 

Dalam pernyataannya, Gubernur menegaskan bahwa Kepulauan Riau tidak boleh bersikap reaktif terhadap krisis global.

“Kita harus selangkah lebih maju. Stabilitas dan citra destinasi adalah kunci. Jangan tunggu dampak datang baru bertindak,” tegasnya.

 

Rakor ini juga menghasilkan sejumlah langkah konkret yang akan segera ditindaklanjuti. Di antaranya adalah pembentukan forum koordinasi lintas sektor, kampanye bersama “Kepri Aman dan Ramah”, penguatan standar pelayanan di pintu masuk, serta penyusunan rekomendasi kebijakan strategis kepada pemerintah pusat.

 

Lebih dari sekadar forum formal, rapat ini mencerminkan satu hal penting, bahwa di tengah tekanan global, Kepulauan Riau memilih untuk tetap berdiri tegak, bergerak bersama, dan menjaga kepercayaan dunia.

 

Di sinilah kekuatan sejati Kepri terlihat, bukan hanya pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuannya beradaptasi, berkolaborasi, dan terus melangkah maju dengan optimisme. (BPras)

 

 

Kontributor Foto : Veve

Editor: Admin