TANJUNGPINANG – Ketika dunia diwarnai ketegangan geopolitik yang memengaruhi berbagai sektor ekonomi global, industri pariwisata justru dituntut untuk semakin tangguh dan adaptif. Kesadaran inilah yang menjadi dasar digelarnya Webinar Nasional “Tourism Under Fire” dengan tema “Dampak Kerentanan Eskalasi Konflik Geopolitik terhadap Pariwisata di Kepulauan Riau” pada Senin, 16 Maret 2026 di Gedung Daerah Kota Tanjungpinang.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni NHI Bandung ini menghadirkan sejumlah tokoh penting nasional, di antaranya Widiyanti Putri Wardhana, Airlangga Hartarto, serta Ansar Ahmad, bersama para pelaku industri pariwisata, akademisi, dan pemangku kepentingan.
Forum ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas bagaimana sektor pariwisata Indonesia, khususnya di Kepulauan Riau, dapat bertahan bahkan berkembang di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Pariwisata dan Ketahanan di Tengah Krisis Global
Ketua Ikatan Alumni NHI/Poltekpar Bandung, Tantowi Yahya, dalam sambutannya menegaskan bahwa pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif terhadap stabilitas global. Menurutnya, konflik geopolitik dapat memicu berbagai dampak langsung terhadap sektor ini, mulai dari pembatalan penerbangan, penurunan reservasi hotel, hingga turunnya mobilitas wisatawan internasional.
“Pariwisata adalah industri yang mengandalkan keindahan sekaligus keamanan. Ketika stabilitas global terganggu, sektor ini yang pertama merasakan dampaknya. Namun kami yakin, dalam setiap kesulitan selalu ada peluang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa webinar ini diharapkan menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi untuk merumuskan strategi menghadapi ketidakpastian global.
Strategi Nasional Pariwisata di Tengah Geopolitik
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan bahwa sektor pariwisata Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai krisis global, mulai dari krisis ekonomi hingga pandemi. Menurutnya, meskipun konflik geopolitik dapat menghambat mobilitas wisatawan internasional, sektor pariwisata tetap memiliki peluang besar untuk berkembang melalui strategi yang tepat.
Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2023 Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, menghasilkan devisa sekitar 18,2 miliar dolar AS, menunjukkan bahwa sektor ini masih berada pada jalur pemulihan yang kuat pascapandemi. “Kami melakukan diversifikasi pasar wisatawan dengan memperkuat promosi di kawasan Asia seperti Korea Selatan, China, Australia, dan India. Selain itu, promosi digital berbasis data juga terus diperkuat agar Indonesia tetap menjadi destinasi yang aman dan menarik,” ujarnya.
Kebijakan Ekonomi untuk Menjaga Stabilitas Pariwisata
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga stabilitas industri pariwisata. Menurutnya, sektor pariwisata memiliki dampak ekonomi yang sangat luas karena terhubung dengan berbagai sektor lain seperti transportasi, kuliner, industri kreatif, dan perdagangan.
“Ketika pariwisata bergerak, ekonomi daerah ikut tumbuh. Karena itu pemerintah terus menyiapkan berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan konektivitas, insentif sektor transportasi, serta kebijakan visa yang lebih kompetitif,” ujarnya.

Kepri: Beranda NKRI dan Gerbang Pariwisata
Dalam pemaparannya, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan posisi strategis Kepri sebagai “Beranda NKRI” yang berada di jalur perdagangan internasional. Provinsi ini memiliki 2.408 pulau, dengan 394 pulau berpenghuni serta 22 pulau terdepan, dan berada di jalur strategis Selat Malaka yang setiap tahun dilalui sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer perdagangan dunia.
Menurutnya, posisi geografis tersebut menjadikan Kepulauan Riau sebagai salah satu pintu masuk wisatawan mancanegara ke Indonesia. “Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan bagi Kepri. Pada tahun 2025 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2,02 juta orang, sementara wisatawan nusantara mencapai 4,29 juta perjalanan,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa ketegangan geopolitik global dapat memengaruhi sektor pariwisata melalui kenaikan biaya transportasi, fluktuasi nilai mata uang, serta potensi travel warning dari beberapa negara. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Kepri telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak tersebut.
Strategi Kepri Menghadapi Gejolak Global
Dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian global yang dapat memengaruhi mobilitas wisatawan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan sektor pariwisata. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempercepat layanan keimigrasian melalui penerapan sistem autogate di bandara dan terminal ferry internasional, sehingga proses kedatangan wisatawan mancanegara dapat berlangsung lebih cepat, efisien, dan nyaman.
Di saat yang sama, pemerintah daerah juga memperkuat program Tourism Linkage antar destinasi guna menciptakan keterhubungan yang lebih baik antara objek wisata, sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan perjalanan dalam satu kawasan.
Selain itu, pengembangan pariwisata berbasis pengalaman juga terus didorong melalui penguatan sektor Sport Tourism dan Marine Tourism, yang dinilai memiliki potensi besar mengingat karakteristik wilayah Kepulauan Riau sebagai provinsi kepulauan dengan kekayaan bahari yang melimpah. Upaya ini turut didukung dengan optimalisasi berbagai kebijakan nasional seperti program Golden Visa dan Second Home Visa yang membuka peluang bagi wisatawan mancanegara untuk tinggal lebih lama sekaligus meningkatkan kontribusi ekonomi bagi daerah.
Tidak kalah penting, promosi pariwisata juga terus diperkuat dengan menekankan citra destinasi yang aman, nyaman, dan ramah bagi wisatawan, sehingga Kepulauan Riau tetap menjadi pilihan utama bagi wisatawan regional maupun internasional di tengah situasi global yang penuh tantangan.
Optimisme Pariwisata Kepri
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, menambahkan bahwa sektor pariwisata Kepri memiliki daya tahan yang kuat karena didukung oleh keragaman atraksi wisata. Mulai dari wisata bahari, budaya Melayu, hingga berbagai event sport tourism internasional seperti Bintan Triathlon, Tour de Bintan, Ironman, dan lain sebagainya.
“Pariwisata Kepri bukan hanya soal destinasi, tetapi juga pengalaman. Kami terus memperkuat promosi pariwisata yang aman, nyaman, dan berkelas internasional,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan pariwisata.
Harapan dari Tanjungpinang untuk Dunia
Webinar nasional ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga simbol optimisme bahwa sektor pariwisata Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global. Di tengah ketidakpastian dunia, Kepulauan Riau justru menegaskan diri sebagai destinasi yang terbuka, aman, dan siap menyambut wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Seperti pantun yang disampaikan Gubernur Ansar Ahmad menutup paparannya:
Sungguh enak buah matoa,
Dijual orang di tempat parkir.
Mari kita semua sama-sama berdoa,
Semoga konflik regional ini segera berakhir. (BPras)