TANJUNGPINANG - Kepulauan Riau kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu gerbang utama pariwisata internasional Indonesia. Di tengah dinamika global dan perubahan pola perjalanan wisata, provinsi kepulauan ini tetap berdiri sejajar dengan Bali dan DKI Jakarta sebagai tiga pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Tanah Air.
Sepanjang Januari–November 2025, Indonesia mencatat Bali sebagai pintu masuk terbesar dengan 6.376.086 wisatawan mancanegara, disusul DKI Jakarta sebanyak 2.532.073 wisatawan, dan Kepulauan Riau dengan 1.780.013 wisatawan mancanegara. Angka ini menegaskan peran strategis Kepulauan Riau sebagai etalase pariwisata maritim Indonesia di kawasan perbatasan.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau pada November 2025 tercatat sebanyak 157.369 kunjungan. Secara bulanan, angka ini mengalami penurunan 10,54 persen dibanding Oktober 2025, namun tetap menunjukkan tren positif secara tahunan dengan kenaikan 13,32 persen dibanding November 2024.
Kota Batam masih menjadi pintu masuk utama dengan kontribusi 81,13 persen, diikuti Kabupaten Bintan, Karimun, dan Kota Tanjungpinang. Wisatawan asal Singapura tetap mendominasi hampir separuh kunjungan, disusul Malaysia, Tiongkok, dan India, menunjukkan kuatnya pasar regional Asia Tenggara dan Asia Timur bagi Kepri.
Di sisi lain, sektor wisata nusantara justru memperlihatkan performa yang solid. Perjalanan wisatawan nusantara pada November 2025 mencapai 370.362 perjalanan, meningkat dibanding bulan sebelumnya dan tumbuh signifikan secara tahunan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pun naik menjadi 50,37 persen, menandakan aktivitas pariwisata domestik yang terus bergairah.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian ini. "Kepri bukan sekadar gugusan pulau, melainkan beranda depan Indonesia yang menawarkan kehangatan budaya dan pesona bahari. Angka 1,7 juta kunjungan ini adalah bukti bahwa kerja keras kita dalam membenahi infrastruktur dan promosi mulai membuahkan hasil yang manis bagi ekonomi kerakyatan," ujarnya dengan nada optimistis.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menjelaskan bahwa fluktuasi ini adalah hal yang lumrah dalam siklus pariwisata global. "November secara tradisional merupakan 'shoulder season' atau periode jeda sebelum lonjakan besar di akhir tahun. Namun, yang patut kita syukuri adalah tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang justru naik menjadi 50,37 persen, yang berarti kualitas kunjungan dan belanja wisatawan tetap terjaga," jelasnya.
Mengapa Wisman November Turun?
Penurunan kunjungan pada November 2025 dibandingkan Oktober 2025 dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling terkait erat:
1. Faktor Internal: Siklus "Shoulder Season" dan Penurunan di Pintu Utama Secara internal, penurunan ini dipicu oleh merosotnya angka kunjungan di titik-titik krusial seperti Kota Batam (-8,45%) dan Kabupaten Bintan yang mengalami koreksi cukup dalam sebesar 25,48%. Bintan, yang sangat bergantung pada wisata resor mewah, cenderung mengalami penurunan pasca-event besar yang biasanya berakhir di bulan Oktober. Selain itu, masa November sering kali digunakan oleh pelaku industri untuk melakukan renovasi atau persiapan menyambut libur Natal dan Tahun Baru.
2. Faktor Eksternal: Dinamika Pasar Singapura dan Malaysia Pasar utama Kepri, yaitu Singapura (49,74%) dan Malaysia (22,08%), menunjukkan penurunan kunjungan masing-masing sebesar 3,65% dan 18,47% pada bulan November. Hal ini dipengaruhi oleh kalender pendidikan di negara tetangga; bulan November merupakan masa persiapan ujian akhir atau transisi sebelum libur panjang sekolah dimulai pada bulan Desember. Wisatawan dari kedua negara tersebut cenderung menahan diri untuk bepergian demi mempersiapkan liburan keluarga besar di bulan Desember.
Menenun Masa Depan Wisata Bahari Kepri
Pariwisata Kepulauan Riau saat ini berada pada persimpangan yang menjanjikan antara pertumbuhan angka dan pendewasaan strategi. Menempatkan diri sebagai pintu masuk ketiga terbesar di Indonesia setelah Bali dan Jakarta bukanlah pencapaian yang remeh. Ini adalah pernyataan tegas bahwa narasi pariwisata Indonesia kini tidak lagi hanya berpusat pada satu pulau, melainkan telah meluas hingga ke batas utara nusantara. Keberhasilan Kepri mencatatkan hampir 1,8 juta kunjungan wisman hingga November 2025 mencerminkan sebuah daya tahan industri yang luar biasa di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penurunan angka pada bulan November janganlah dipandang sebagai sebuah kemunduran, melainkan sebuah tarikan napas pendek sebelum sebuah lompatan besar. Dinamika ini memberikan pelajaran berharga bagi para pemangku kebijakan bahwa ketergantungan pada dua pasar utama, Singapura dan Malaysia, menuntut Kepri untuk lebih kreatif dalam menata destinasi wisata dan menciptakan event-event menarik di masa tenang. Transformasi Kepri dari sekadar destinasi akhir pekan menjadi destinasi liburan jangka panjang tercermin dari lama menginap tamu asing yang tetap kompetitif di angka 2,25 malam.
Melihat pariwisata haruslah melalui lensa yang lebih luas, di mana setiap kedatangan turis bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan roda penggerak bagi ribuan UMKM di Batam, Tanjungpinang, hingga pelosok Natuna. Pertumbuhan wisatawan nusantara yang melonjak 25 persen juga menjadi sinyal kuat bahwa kecintaan terhadap destinasi domestik kian mengakar. Kepulauan Riau sedang membangun sebuah ekosistem pariwisata yang tidak hanya megah di permukaan, tetapi juga kokoh secara fundamental. Dengan komitmen yang teguh dari pemerintah provinsi dan kolaborasi lintas sektor, Kepri siap menyongsong fajar baru sebagai ikon pariwisata bahari dunia yang elegan dan inklusif. (BPras)












